NIM : 23041080123
KELAS : MPI D
Mata Kuliah : Penulisan Karya Ilmiah
Dosen Pengampu : Wulan Oktarina S.H M.Pd
E-mail : novalfabriansyahnoval@gmail.com
Universitas : UIN Raden Fatah Palembang
Prodi : Manajemen Pendidikan Islam
Saya Persembahkan blog saya ini dengan senang hati agar menjadi tumpuan hidup serta kenang kenangan untuk masa yang akan datang dengan alamat https://novalpabriyansa.blogspot.com/
Blog ini akan saya isi dengan sebuah karya ilmiah yang berjudul "Manajemen Kesiswaan Dalam Menghadapi Generasi Gen Z dan Alpha di Lembaga Pendidikan Islam"
Semoga blog yang saya buat ini bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian dan semoga juga bisa bermanfaat untuk masa yang akan datang Terima Kasih
MANAJEMEN KESISWAAN DALAM MENGHADAPI GENERASI GEN Z DAN ALHA DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta digital telah melahirkan generasi baru dengan karakteristik yang berbeda;beda dari generasi sebelumnya, yaitu Generasi Z dan Generasi Alpha. Ada Generasi Z dikenal sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan internet, sementara Generasi Alpha merupakan generasi yang sejak lahir telah bersentuhan langsung dengan teknologi digital. Kondisi ini membentuk pola pikir, perilaku, serta cara belajar yang cenderung cepat, visual, interaktif, dan berbasis teknologi.
Perbedaan karakteristik tersebut membawa dampak signifikan terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam pengelolaan peserta didik. Peserta didik dari Generasi Z dan Alpha cenderung memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi, rentan mengalami penurunan fokus belajar, serta lebih menyukai pendekatan pembelajaran yang fleksibel dan tidak monoton. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan Islam yang selama ini dikenal dengan pendekatan pembinaan yang menekankan pada nilai-nilai akhlak, kedisiplinan, dan adab.
Manajemen kesiswaan sebagai salah satu aspek penting dalam pengelolaan pendidikan memiliki peran strategis dalam membina dan mengarahkan peserta didik agar berkembang secara optimal, baik dari segi akademik maupun non-akademik. Namun, dalam praktiknya, manajemen kesiswaan di beberapa lembaga pendidikan Islam masih cenderung menggunakan pendekatan konvensional yang kurang adaptif terhadap perubahan karakteristik generasi saat ini. Ketidaksesuaian antara pendekatan yang digunakan dengan karakter peserta didik dapat menyebabkan kurang optimalnya proses pembinaan serta menurunnya efektivitas kegiatan kesiswaan.
Oleh karena itu, diperlukan adanya penyesuaian dalam manajemen kesiswaan yang berlandaskan pada pemahaman terhadap karakteristik Generasi Z dan Alpha. Pendekatan yang lebih fleksibel, komunikatif, serta memanfaatkan teknologi menjadi penting untuk diterapkan agar proses pembinaan peserta didik tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Karakteristik Siswa Generasi Z dan Alpha di Lembaga Pendidikan Islam
Generasi Z dan Alpha memiliki karakteristik yang terbentuk dari perkembangan teknologi digital yang sangat pesat. Kedua generasi ini dikenal sebagai digital native, yaitu individu yang sejak lahir telah terbiasa dengan penggunaan teknologi seperti smartphone, internet, dan media sosial. Kondisi ini memengaruhi cara mereka berpikir, berinteraksi, serta belajar (Riandi, dkk, 2026)
Dalam konteks pendidikan, peserta didik dari Generasi Z dan Alpha cenderung memiliki rentang perhatian yang lebih pendek dan mudah merasa bosan terhadap metode pembelajaran yang bersifat monoton, seperti ceramah satu arah. Mereka lebih menyukai pembelajaran yang bersifat visual, interaktif, dan melibatkan teknologi. Selain itu, mereka juga memiliki kecenderungan untuk menginginkan kebebasan dalam berekspresi serta lebih responsif terhadap pendekatan yang bersifat personal dan komunikatif (Rhamdani, 2026)
Di sisi lain, karakteristik tersebut juga membawa tantangan tersendiri, terutama dalam lembaga pendidikan Islam yang menekankan nilai-nilai akhlak, disiplin, dan adab. Peserta didik cenderung kurang tertarik pada kegiatan yang bersifat konvensional dan kurang relevan dengan dunia mereka. Hal ini dapat berdampak pada menurunnya motivasi belajar serta keterlibatan dalam kegiatan kesiswaan (Munawir, dkk, 2024)
B. Tantangan Manajemen Kesiswaan dalam Menghadapi Generasi Z dan Alpha
Perbedaan karakteristik peserta didik dari Generasi Z dengan Alpha menuntut adanya penyesuaian dalam manajemen kesiswaan. Namun, dalam praktiknya, masih banyak di berbagai lembaga pendidikan Islam yang menghadapi berbagai tantangan dalam mengelola peserta didik dikalangan generasi ini (Alit & Tejawati, 2023)
Salah satu tantangan utamanya adalah rendahnya efektivitas pendekatan yang disiplin serta bersifat otoriter. Generasi Z dan Alpha sekarang cenderung kurangnya responsif terhadap aturan yang diterapkan secara kaku tanpa adanya komunikasi yang jelas. Mereka lebih membutuhkan pemahaman yang lebih jelas daripada sekadar perintah saja (Basir, dkk, 2025)
Selain itu, kegiatan kesiswaan yang kurang inovatif juga menjadi kendala. Banyak program kesiswaan dan event-event yang masih bersifat monoton dan tidak mampu menarik minat peserta didik. Akibatnya, partisipasi siswa dalam kegiatan tersebut menjadi rendah (Nasir, 2024)
Tantangan lainnya adalah penggunaan teknologi yang tidak ada batas dan tidak terkontrol. Meskipun teknologi dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif, penggunaan yang berlebihan tanpa pengawasan dari orang tua dan guru dapat berdampak negatif terhadap perilaku dan fokus belajar peserta didik. Dalam konteks ini, manajemen kesiswaan dituntut agar mampu mengarahkan peserta didik dalam penggunaan teknologi secara bijak (Muchtar, 2026)
C. Strategi Manajemen Kesiswaan Berbasis Karakter Generasi Z dan Alpha
Untuk menghadapi berbagai karakteristik Generasi Z dan Alpha, manajemen kesiswaan di berbagai lembaga pendidikan Islam perlu melakukan berbagai penyesuaian yang bersifat adaptif dan relevan (Dewantara, 2025)
Pertama, penerapan pendekatan yang lebih personal dan komunikatif. Peserta didik perlu dipahami sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan karakter yang berbeda. Oleh karena itu, pembinaan tidak lagi hanya bersifat instruktif, tetapi juga harus melibatkan dialog dan pendekatan emosional.
Adapun yang Kedua pengembangan kegiatan kesiswaan yang inovatif dan berbasis minat siswa. Kegiatan seperti organisasi siswa, ekstrakurikuler, dan program pembinaan yang perlu dirancang secara kreatif agar sesuai dengan minat dan karakter para peserta didik. Dengan demikian, para siswa dan siswi akan lebih aktif dan terlibat dalam berbagai kegiatan di sekolah.
Ketiga, memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembinaan. Teknologi tidak hanya dipandang sebagai tantangan, akan tetapi juga sebagai peluang. Manajemen kesiswaan dapat memanfaatkan media digital untuk berkomunikasi, penyampaian informasi, serta pengembangan program kesiswaan yang lebih menarik.
Dengan menerapkan strategi yang berbasis pada karakteristik Generasi Z dan Alpha, manajemen kesiswaan di lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pembinaan serta menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih relevan dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
D. Analisis Kritis: Kesenjangan antara Karakter Siswa dan Praktik Kesiswaan
Meskipun karakteristik Generasi Z dan Alpha telah banyak dikaji, dalam praktik dilapangan masih terdapat kesenjangan antara karakter peserta didik dengan sistem manajemen kesiswaan yang diterapkan di lembaga pendidikan Islam. Banyak lembaga pendidikan yang masih mempertahankan pola pembinaan yang bersifat seragam, tanpa mempertimbangkan perbedaan karakter individu maupun generasi (Abyansyah, 2024)
Pendekatan yang terlalu menekankan pada kepatuhan tanpa memberikan ruang dialog cenderung kurang efektif dikalangan Generasi Z dan Alpha. Mereka lebih membutuhkan pemahaman yang rasional terhadap aturan yang diberikan, bukan sekadar instruksi maupun perintah. Ketika pendekatan ini tidak terpenuhi, maka peserta didik cenderung menunjukkan sikap resistensi, seperti kurangnya partisipasi, pelanggaran aturan, hingga sikap apatis terhadap kegiatan sekolah (Husaini, dkk, 2026)
Selain itu, sistem kesiswaan yang belum terintegrasi dengan perkembangan teknologi sekarang juga menjadi hambatan. Di era digital saat ini, peserta didik lebih aktif di ruang virtual dibandingkan ruang fisik. Namun, banyak lembaga pendidikan yang masih belum memanfaatkan ruang digital sebagai bagian dari strategi pembinaan, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara dunia siswa dengan sistem yang diterapkan didalam sekolah.
E. Dampak Karakter Generasi Z dan Alpha terhadap Efektivitas Pembinaan
Karakteristik Generasi Z dan Alpha tidak hanya menjadi tantangan, akan tetapi juga berdampak langsung terhadap efektivitas pembinaan peserta didik. Jika tidak dikelola dengan baik, karakter tersebut dapat menurunkan kualitas proses pendidikan (Riandi, 2026)
Misalnya, kecenderungan yang mudah bosan dapat menyebabkan rendahnya keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan kesiswaan. Program yang tidak variatif akan cepat ditinggalkan, sehingga tujuan pembinaan tidak tercapai secara optimal. Di sisi lain, ketergantungan terhadap teknologi dapat mengganggu fokus belajar serta interaksi sosial secara langsung (Septiningtyas, 2026)
Namun, jika dikelola dengan baik, karakter tersebut justru dapat menjadi potensi. Kemampuan adaptasi terhadap teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi siswa. Dengan demikian, efektivitas pembinaan sangat bergantung pada kemampuan manajemen kesiswaan dalam mengelola karakter tersebut secara profesional dan tepat.
F. Model Pendekatan Adaptif dalam Manajemen Kesiswaan
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan model pendekatan yang adaptif dalam manajemen kesiswaan yang tidak hanya bersifat teoritis, akan tetapi juga bersifat aplikatif. Pendekatan ini menekankan pada fleksibilitas, relevansi, dan keterlibatan aktif peserta didik di lembaga pendidikan (Nadia, dkk, 2025)
Salah satu model yang dapat diterapkan adalah pendekatan partisipatif, di mana peserta didik dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kesiswaan. Dengan demikian, siswa merasa memiliki peran dan tanggung jawab terhadap kegiatan tersebut (Anam, 2024)
Selain itu, pendekatan berbasis pengalaman (experiential learning) juga dapat menjadi alternatif bagi peserta didik. Kegiatan kesiswaan yang dirancang tidak hanya sebagai formalitas, tetapi sebagai pengalaman nyata yang bermakna bagi peserta didik, seperti kegiatan sosial, proyek kolaboratif, dan program berbasis komunitas (Agustiani, dkk, 2025)
Pendekatan lain yang tidak kalah penting adalah integrasi teknologi dalam manajemen kesiswaan. Penggunaan media sosial, platform digital, serta aplikasi komunikasi dapat menjadi sarana efektif untuk menjangkau peserta didik serta meningkatkan interaksi antara pihak sekolah dan siswa (Rufaidah & Jabbar, 2026)
G. Implikasi terhadap Pengembangan Kebijakan Pendidikan
Perubahan karakteristik peserta didik juga memiliki implikasi terhadap kebijakan pendidikan, khususnya dalam bidang kesiswaan. Lembaga pendidikan Islam perlu melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang ada agar lebih responsif terhadap perkembangan generasi yang berkelanjutan (Pawero, 2021)
Kebijakan kesiswaan tidak cukup hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi juga harus mencakup aspek psikologis dan sosial peserta didik. Hal ini meliputi penguatan layanan bimbingan konseling, pengembangan program berbasis minat dan bakat, serta penyediaan ruang ekspresi bagi siswa (Aprianti & Maulia, 2023)
Selain itu, peningkatan kompetensi tenaga pendidik dan pengelola kesiswaan juga menjadi hal yang penting. Guru dan staf kesiswaan perlu memahami karakteristik Generasi Z dan Alpha agar mampu menerapkan pendekatan yang sesuai.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perkembangan karakteristik peserta didik dari Generasi Z dan Alpha membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pengelolaan kesiswaan di lembaga pendidikan Islam. Generasi ini memiliki ciri khas sebagai digital native yang cenderung menyukai pembelajaran yang interaktif, fleksibel, serta berbasis teknologi. Di sisi lain, mereka juga memiliki tantangan seperti rendahnya fokus belajar, ketergantungan terhadap teknologi, serta kecenderungan menolak pendekatan yang bersifat otoriter.
Dalam konteks tersebut, manajemen kesiswaan di lembaga pendidikan Islam dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama dalam menyesuaikan pendekatan pembinaan yang selama ini cenderung konvensional dengan karakteristik generasi saat ini. Ketidaksesuaian pendekatan dapat berdampak pada menurunnya efektivitas pembinaan serta rendahnya keterlibatan peserta didik dalam kegiatan kesiswaan.
Oleh karena itu, diperlukan strategi manajemen kesiswaan yang adaptif dan berbasis pada pemahaman karakter Generasi Z dan Alpha. Pendekatan yang lebih personal dan komunikatif, pengembangan kegiatan kesiswaan yang inovatif, pemanfaatan teknologi secara bijak, serta integrasi nilai-nilai pendidikan Islam secara kontekstual menjadi langkah penting dalam meningkatkan efektivitas pembinaan peserta didik.
Dengan demikian, manajemen kesiswaan yang mampu beradaptasi dengan karakteristik generasi masa kini tidak hanya akan meningkatkan kualitas pengelolaan peserta didik, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam tetap dapat ditanamkan secara efektif dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Munawir, M., Alfiana, F., & Pambayun, S. P. (2024). Menyongsong Masa Depan: Transformasi Karakter Siswa Generasi Alpha Melalui Pendidikan Islam yang Berbasis Al-Qur'an. Attadrib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 7(1), 1-11.
Rhamdani, O. S. (2026). Dari Tazkiyah al-Nafs menuju Sufisme Digital: Negosiasi Pendidikan Spiritual bagi Generasi Z dan Alpha dalam Pendidikan Islam Kontemporer di SMPI Miftahul Iman. Abdurrauf Journal of Education and Islamic Studies, 2(2), 99-108.
Riandi, M. H., Fajar, M., Rizky, A., & Sari, H. P. (2026). Tantangan Profesionalisme Guru PAI dalam Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Lembaga Pendidikan Islam. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 4(2), 16-24.
Alit, D. M., & Tejawati, N. L. P. (2023). Smart classroom: Digital learning generasi Z dan Alpha. Universitas, 1(2).
Basir, M. K., Judijanto, L., Muhtadi, H. D. A., & Rachmandhani, M. S. (2025). Seni Mengajar Gen Z dan Gen Alpha: Memahami Karakter & Kepribadian Sekaligus Pola Asuh Anak Didik agar Siap Menghadapi Tantangan Zaman. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Nasir, R. (2024). Tantangan Penetrasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Mendidik Generasi Alpha. Bincang Sains Dan Teknologi, 3(02), 44-51.
Muchtar, N. E. P. (2026). PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK GENERASI Z DAN GENERASI ALPHA.
Dewantara, A., Fauza, D., & Reksa, R. D. (2025). Inovasi Pembelajaran Berbasis Game untuk Menarik Minat Generasi Z dan Alpha. Progressive Journal of Educational Science, 1(3), 87-94.
Abyansyah, M., Safitri, A. Y., Jannah, N. L. Z. J., & Kusumaningrum, H. (2024). Inovasi dalam Manajemen Kesiswaan: Membentuk Karakter dan Potensi Siswa. Al-Gafari: Manajemen dan Pendidikan, 2(3), 225-234.
Husaini, M. H., Nurmalasari, I., & Madum, M. (2026). Manajemen Kesiswaan Dalam Pembinaan Karakter Religius Peserta Didik. Jurnal Manajemen Pendidikan, 14(1), 332-342.
Nadia, A. N., Umar, A., & Waluyo, K. E. (2025). OPTIMALISASI MANAJEMEN KESISWAAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMA NEGERI 4 KARAWANG. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 23(2), 886-894.
Anam, M. C. (2024). Manajemen kesiswaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi dalam meningkatkan literasi digital siswa. Transformasi: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Non Formal Informal, 10(2), 209-219.
Agustiani, S., Arwan, A., Mislawati, S. E., & Saputra, A. A. (2025). MANAJEMEN KESISWAAN DALAM PENINGKATAN KEDISIPLINAN DAN KEPEMIMPINAN SISWA. Jurnal Manajemen Pendidikan, 10(4), 2317-2324.
Diana, E., & Azdillah, M. R. (2024). Implementasi Manajemen Kesiswaan dalam Mendukung Peningkatan Prestasi Belajar Siswa di MAN 4 Aceh Selatan. Pase: Journal of Contemporary Islamic Education, 3(2), 161-176.
Pawero, A. M. D. (2021). Arah baru perencanaan pendidikan dan implikasinya terhadap kebijakan pendidikan. Dirasah: Jurnal Studi Ilmu Dan Manajemen Pendidikan Islam, 4(1), 16-32.
Aprianti, A., & Maulia, S. T. (2023). Kebijakan pendidikan: Dampak kebijakan perubahan kurikulum pendidikan bagi guru dan peserta didik. Jurnal Pendidikan Dan Sastra Inggris, 3(1), 181-190.
