RAGAM ORIENTASI KURIKULUM
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik.
Sebagaimana sudah menjadi rahasia umum bahwa system pendidikan nasiomal kita telah berkali – kali mengadakan perubahan. Perubahan yang paling esensial dalam pendidikan nasional ini adalah perubahan kurikulum. Kurikulum pendidikan nasional telah berkali – kali mengalami perubahan, sudah Sembilan kali terjadi perubahan kurukulum dari Indonesia merdeka sampai sekarang. tiga kali perubahan yang terakhir adalah mulai dari kurikulum 19994, kurikulum 2004 yang terkenal dengan Kurikulum Berbasis kompetensi (KBK) dan kurikulum 2006 dikenal dengan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP). Latar Belakang
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik.
Sebagaimana sudah menjadi rahasia umum bahwa system pendidikan nasiomal kita telah berkali – kali mengadakan perubahan. Perubahan yang paling esensial dalam pendidikan nasional ini adalah perubahan kurikulum. Kurikulum pendidikan nasional telah berkali – kali mengalami perubahan, sudah Sembilan kali terjadi perubahan kurukulum dari Indonesia merdeka sampai sekarang. tiga kali perubahan yang terakhir adalah mulai dari kurikulum 19994, kurikulum 2004 yang terkenal dengan Kurikulum Berbasis kompetensi (KBK) dan kurikulum 2006 dikenal dengan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSp)
Perubahan – perubahan kurikulum yang terjadi dalam system pendidikan nasionmal tidak jarang membawa implikasi – implikasi yang beragam, baik negative maupun positif. Pada kenyataannya, implikasi perubahan kurikulum itu membawa sekian banyak problem yang tidak mudah untuk dipecahkan. Problem prolem ini tidak hanya dialami oleh para penyelengara di pusat, akan tetapi juga di tingkat daerah. Masyarakatpun pada umumnya menanggapi dengan nada sinis dan negative. Sehingga terkesan pendidikan kita adalah pendidikan produk penguasa, ketika ada pergantian menteri berganti pula kurikulum, kebijakan kurikulum yang dilaksanakan belum tuntas sudah berganti lagi dengan kurikulum yang baru.
Perubahan Kurikulum sembilan kali tersebut menurut banyak pengamat sampai detik ini belum mampu untuk menjadi formulasi yang tepat untuk dijadikan pengatur pendidikan di Indonesia. Untuk itu marilah kita kaji bersama-sama mengenai perjalanan orientasi kurikulum yang telah berjalan dan berlaku di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
C.Tujuan Masalah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Orientasi Kurikulum
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Orientasi adalah peninjauanuntuk menentukan sikap ( baik berupa arah, tempat, maupun tujuan, dansebagainya yang berawal dari pemikiran). Selain itu, orientasi juga dapat didefenisikan sebagai pandangan yang menjadi dasar bagi pikiran, perhatian ataukecenderungan untuk bertindak dan melakukan sesuatu.
Secara Harfiah, istilah kurikulum berasal dari bahasa latin Currere yang berarti berlari di lapangan pertandingan (race course). Menurut pengertian ini, kurikulum adalah suatu “arena pertandingan” tempat siswa “bertanding” untuk mengusaisatu atau lebih keahlian guna mencapai “garis finish” yang ditandai pemberiandiploma, ijazah atau gelar kesarjanaan (Zais, 1976). Pengaruh definisi ini sangat besar dan bertahan lama di dunia pendidikan sehingga menentukan orientasikurikulum di hampir semua negara di dunia (Mohammad Ansyar, 2015).
Kurikulum dalam bahasa Arab disebut dengan istilah manhaj yang berarti jalan terang dan dilalui manusia di berbagai bidang kehidupan. Sedangkankurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) adalah seperangkat perencanaan danmedia yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan Pendidikan (Hasan Langgulung, 1986)
.Menurut Nana Saodih, kurikulum adalah program dan pengalaman belajarserta hasil-hasil belajar yang diharapkan, yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis, diberikan kepada peserta didik di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhandan perkembangan pribadi serta kompetensi sosial peserta didik. (Nana Sudjana,1991).
Berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 Bab I pasal 1 poin 19kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dantujuan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaran pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.Jadi dapat disimpulkan bahwa Kurikulum adalah segala sesuatu yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi peserta didik atas tanggung jawab sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dengan begitu, fasilitassekolah, lingkungan yang aman, bersih, suasana pembelajaran, media dan sumber pembelajaran merupakan bagian dari kurikulum.
Secara garis besar Orientasi kurikulum adalah bagaimana memberikankontribusi positif dalam perkembangan sosial dan kebutuhannya, sehingga outputdi lembaga pendidikan mampu menjawab dan mengatasi masalah-masalah yangdihadapi mayarakat.
B. Jenis-Jenis Orientasi Kurikulum
Orientasi pengembangan kurikulum diartikan sebagai sebuah arah atau pendekatan yang memiliki penekanan tertentu pada suatu hal dalam mengembangkan kurikulum baik bagi para pengembang kurikulum maupun para pelaksana di sekolah.
Orientasi Pengembangan kurikulum menurut Seller mencakup enam aspek, yaitu :
1. Tujuan pendidikan mencakup arah kegiatan pendidikan. Artinya , hendak dibawa ke mana siswa yang kita didik itu.
2. Pandangan tentang anak. Apakah anan termasuk sebagai organisme yang aktif atau pasif.
3. Pandangan tentang proses pembelajaran. Apakah proses pembelajaran itu dianggap sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan atau mengubah prilaku.
4. Pandangan tentang lingkungan. Apakah lingkungan belajar harus dikelola secara formal, atau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas belajar.
5. Konsepsi tentang peran guru . Apakah guru harus berperan sebagai instruktur yang bersifat otoriter, atau guru dianggap sebagai fasilitator yang siap memberi bimbingan dan bantuan pada anak untuk belajar.
6. Evaluasi belajar. Apakah mengukur keberhasilan ditentukan dengan tes atau nontes
C. Orientasi dan Fungsi Kurikulum
Kurikulum sebagai alat pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa fungsi, yaitu: kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif anak, aktualisasi diri anak, rekonstruksi sosial, dan akademik.(Sukirman dan Nugraha, 2011)
1. Fungsi Kurikulum sebagai Proses Kognitif Sebagai proses kognitif, kurikulum dipandang sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak, yaitu pengembangan kemampuan berpikir untuk menghadapi dan memecahkan permasalahan yang akan dihadapi. 2. Fungsi Kurikulum sebagai Proses Aktualisasi Diri Sebagai proses aktualisasi diri anak, kurikulum merupakan alat untuk memfasilitasi anak
agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat, dan bakat yang dimilikinya
sehingga setiap anak bisa mengenal terhadap dirinya sendiri dan tumbuh serta berkembang
sebagai dirinya sendiri.
3. Fungsi Kurikulum sebagai Proses Rekonstruksi Sosial
Sebagai proses rekonstruksi sosial, kurikulum dipandang sebagai alat untuk membekali
anak dengan kemampuan agar menjadi anggota masyarakat yang tidak saja menerima atau
menyesuaikan diri dengan “kehidupan” yang sudah ada, tetapi juga secara inovatif dan kreatif
mengembangkan kehidupan ke arah yang lebih produktif dan berkualitas.
4. Fungsi Kurikulum sebagai Program Akademik
Sebagai program akademik, kurikulum dipandang sebagai alat dan tempat belajar, di
mana dari kegiatan belajar yang diprogram kurikulum anak dapat memperoleh pengetahuan yang
diharapkan dapat membekali kemampuan untuk bisa “hidup” dalam zaman yang dilaluinya.
Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa juga, dalam literatur lainnya disebutkan oleh
Alexander Inglis dalam Hamalik, bahwa fungsi kurikulum bagi siswa ada 6 (Enam), yaitu:
(Sudin,2014)
1. Fungsi Penyesuaian (the adjustive or adaptive functiom)
Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus
mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted, yaitu mampu menyesuaikan dirinya
dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan itu sendiri
senantiasa mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, siswa pun harus memiliki
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
2. Fungsi Integrasi (the integrating function)
Fungsi integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus
mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan
bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian yang
dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakatnya.
3. Fungsi Diferensiasi (the diferentiating function)
Fungsi diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alatpendidikan harus
mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki
perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis, yang harus dihargai dan dilayani dengan baik.
4. Fungsi Persiapan (the propaedeutic function)
Fungsi persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus
mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi kejenjang pendidikan berikutnya. Selain
itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat
seandainya ia karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
5. Fungsi Pemilihan (the selective function)
Hal ini bermakna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan
kesempatan kepada siswa untuk memilih program-program belajar yang Sesuai dengan
kemampuan dan minatnya. Fungsi tersebut sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi
karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi
siswa tersebut untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk
mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat
fleksibel (luwes/lentur).
6. Fungsi Diagnostik (the diagnostic function)
Fungsi diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus
mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan
(potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memahami kekuatankekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya maka diharapkan siswa dapat
mengembangkan sendiri potensi/ kekuatan yang dimilikinya atau memperbaiki kelemahankelemahannya.
Brady dan Kennedy juga mengusulkan orientasi dan fungsi kurikulum yang
mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan individu siswa dan stakeholders pendidikan. Berikut dapat
dipahami secara jelas seperti pada tabel di bawah ini:(Ansyar, 2017).
Tabel 1. Orientasi Kurikulum dan Fungsi Kurikulum
Orientasi Kurikulum | Fungsi Kurikulum |
KULTURAL | Mewarisi fondasi budaya masyarakat ke generasi berikut |
PERSONAL | Membekali siswa dengan kebutuhan pokok individu dan kelompok |
VOKASIONAL | Membekali siswa agar dapat berpartisipasi aktif dalam dunia nyata |
SOSIAL | Memungkinkan siswa fungsional di masyarakat bagi kesejahteraan bersama |
EKONOMI | Memungkinkan kemampuan individual siswa berkontribusi pada kemajuan bangsa/ negara secara keseluruhan |
Pertama, orientasi kultural dalam kurikulum adalah mentransmisi dan mewariskan warisan
budaya kepada generasi muda, yakni siswa di sekolah. Dengan demikian , sekolah sebagai suatu
lembaga sosial dapat mempengaruhi dan membina tingkah laku para siswa dengan nilai-nilai budaya
yang ada dalam masyarakat.
Kedua, orientasi personal dalam kurikulum dimaknai sebagai suatu cara turut aktif
berpartisipasi dalam menyiapkan siswa sehingga dapat memenuhi kebutuhan pokoknya sebagai
individu. Mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga
dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki secara optimal.
Ketiga, orientasi vokasional dalam kurikulum berarti sekolah diharapkan dapat membantu
setiap individu guna mengembangkan semua potensi yang ada padanya, maka kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, dan kemampuan, serta keterampilan yang baru, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Keempat, orientasi sosial dalam kurikulum, dimaknai juga sebagai suatu cara mempersiapkan siswa agar dapat memberikan sumbangan manfaat dan berguna dalam masyarakat. Mendorongnya pula agar menjadi orang berpikir kritis dan kreatif, sehingga dapat mendorong kemajuan sosial dalam masyarakatnya kelak. Kelima, orientasi ekonomi dalam kurikulum, diharapkan adanya pelajaran, pengalaman yang dilakukan selama proses pembelajaran dapat mengembangkan cara berpikir dan keterampilan sehingga siswa memiliki kemampuan secara individual dan dapat berkontribusi pada kemajuan bangsa/ negara secara keseluruhan.
PSIKOLOGI DALAM KURIKULUM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Psikologi kurikulum merupakan cabang psikologi yang mendalami hubungan antara proses belajar dan desain kurikulum dalam sistem pendidikan. Kurikulum yang efektif tidak hanya mencakup konten akademis, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana siswa memproses informasi dan bagaimana mereka merespons berbagai metode pengajaran. Pendekatan ini mengakui bahwa setiap individu memiliki cara belajar yang unik dan beragam, sehingga penting untuk merancang kurikulum yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Dengan memahami prinsip-prinsip psikologi, pendidik dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih terpersonalisasi dan mendorong keterlibatan siswa secara maksimal.
Pentingnya psikologi pendidikan juga terlihat dalam penerapan strategi pembelajaran yang efektif, pengelolaan kelas, dan penilaian kinerja siswa. Guru dan pendidik dapat menggunakan prinsip-prinsip psikologi pendidikan untuk merancang lingkungan pembelajaran yang meningkatkan efektivitas pembelajaran, mengatasi hambatan dalam proses pembelajaran, dan mendukung perkembangan siswa secara optimal. Latar belakang tersebut menunjukkan bahwa pendidik dapat memahami bahwa proses pembelajaran dapat ditingkatkan agar lebih disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi individu siswa. Hal ini juga membuka kemungkinan untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang lebih holistik, di mana setiap siswa dapat belajar sesuai dengan gaya dan kemampuannya masing-masing, yang pada akhirnya mengarah pada keberhasilan pendidikan yang lebih besar.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian psikologi kurikulum?
2. Apa saja jenis psikologi dalam kurikulum?
3. Bagaimana faktor psikologi dalam kurikulum?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui psikologi kurikulum.
2. Untuk mengetahui jenis psikologi dalam kurikulum.
3. Untuk mengetahui faktor psikologi dalam kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penegrtian Psikologi Kurikulum
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sedangkan kurikulum adalah serangkaian program pendidikan sebagai pedoman dalam mencapai tujuan. Psikologi juga menjadi landasan terbentukanya kurikulum, Sebagai bagian pengembangan kurikulum, pengembang semestinya melihat kondisi peserta didik saat menyusun dan merealisasikan kurikulum sehingga tujuan pendidikan akan berhasil secara optimal.
Pertimbangan psikologi diperlukan dalam memilih dan menentukan isi dari mata pelajaran yang hendak disampaikan kepada peserta didik supaya kedalaman materi sesuai dengan perkembangan peserta didik. Sedangkan psikologi belajar yakni berkenaan dengan serangkaian proses bagaimana materi disampaikan kepada peserta didik serta bagaimana langkah peserta didik dalam mempelajari materi supaya tujuan pembelajaran dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Pertimbangan utama disaat mengambil kebijakan tentang pengembangan kurikulum, hendaknya pengetahuan psikologi anak dan bagaimana anak belajar diperlukan untuk menjadi acuan. Sehingga anak tidak menjadi korban ketidak mampuan dalam memahami teori psikologi anak secara umum seperti teori- teori belajar, teori- teori kognitif, pengembangan emosional, dinamika group, perbedaan kemampuan masing-masing peserta didik, kepribadian, model formasi sikap dan perubahan saat mengembangkan kurikulum.
Pengembangan kurikulum selain berlandaskan psikologi juga harus beracuan pada UUD No. 20 tahun 2003 Bab X pasal 36 ayat 1 dan 2 yakni bahwa Pengembangan kurikulum dilakukan dengan berpedoman pada standar nasional pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional dan kurikulum disetiap jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan melalui prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, kemampuan daerah, dan peserta didik. Pada pasal 38 ayat 2 menjelaskan bahwa kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh satuan pendidikan dan komite sekolah atau madrasah di bawah koordinasi dan pengawasan dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kota untuk pendidikan dasar dan Propinsi untuk pendidikan menengah (Akbar & Firdaus, 2023).
Psikologi merupakan salah satu landasan dalam pengembangan kurikulum yang harus dipertimbangkan oleh para pengembang. Hal ini dikarenakan posisi kurikulum dalam proses pendidikan memegang peranan yang sentral. Dalam proses pendidikan terjadi antar manusia, yaitu antara anak didik dengan pendidik, dan juga antara anak didik dengan manusia-manusia lainnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena kondisi psikologisnya. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata ”kondisi psikologis adalah kondisi karakteristik psikofisik manusia sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksinya dengan lingkungan”. Perilakuperilaku tersebut merupakan anifestasi dari ciri-ciri kehidupannya, baik yang nampak maupun yang tidak nampak; baik perilaku kognitif, afektif maupun psikomotor. Interaksi yang tercipta didalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis dari anak didik dan pendidik. Interaksi pendidikan di rumah berbeda dengan di sekolah. Interaksi antara anak dengan guru pada tingkat sekolah dasar berbeda dengan pada tingkat sekolah menengah pertama dan atas. Anak didik merupakan individu yang sedang berada dalam proses perkembangan, Tugas utama guru adalah membantu mengoptimalkan perkembangan peserta didik tersebut (Yuliawati, 2021).
Psikologi peserta didik sangat diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum, baik dari tingkat kedalaman materi, kesulitan dan kelayakan materi serta manfaat materi itu sendiri_. Untuk melengkapi landasan psikologi perkembangan, berikut akan dikemukakan tugas-tugas perkembangan developmental task dari Robert J. havighurst, yang dikutip oleh Zainal Arifin, yaitu_: Perkembangan yang terjadi masa kanak-kanak (3-8 tahun) Belajar berjalan Belajar makan-makanan padat Belajar mengendalikan gerakan badan Belajar menjadi anak yang sesuai dengan jenis kelaminnya Mendapatkan keseimbangan fisiologis Membuat konsep-konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan membuat konsep-konsep sederhana tentang kenyataan sosial serta fisik Belajar menghubungkan diri secara emosional dengan orang tua, saudara dan orang lain Belajar membedakan yang benar dan salah Perkembangan masa anak (8-12 tahun) Mempelajari keterampilan fisik Membentuk sikap tertentu Belajar bergaul dengan teman sebaya, Mempelajari peran sesuai dengan jenis kelamin diri Membina keteramilan membaca, menulis, dan berhitung Mengembangkan kemampuan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari Membentuk kata hati, moralitas, dan nilai-nilai Memperoleh kebebasan diri dan Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok dan lembaga sosial (Found et al., 2020)
Sebuah ilmu yang membahas tentang bagaimana seorang pelajar melakukan kegiatan belajar disebut dengan psikologi belajar. Pengertian belajar yaitu sebuah proses berubahnya tingkah laku yang disebabkan oleh interaksi yang dilakukan pelajar terhadap lingkungan sekitarnya. Beberapa perubahan yang dialami tersebut antara lain berupa: pengetahuan, sikap, keterampilan serta nilai-nilai. Sedangkan perubahan-perubahan perilaku yang disebabkan instink atau karena kematangan serta pengaruh hal-hal bersifat kimiawi tidak termasuk dalam belajar.
1. Teori Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang meyakini bahwa untuk mengkaji perilaku individu harus dilakukan terhadap setiap aktivitas individu yang dapat diamati, bukan pada peristiwa hipotetis yang terjadi dalam diri individu. Oleh karena itu, penganut aliran behaviorisme menolak keras adanya aspek-aspek kesadaran atau mentalitas dalam individu. Pandangan ini sebetulnya sudah berlangsung lama sejak jaman Yunani Kuno, ketika psikologi masih dianggap bagian dari kajian filsafat. Namun kelahiran behaviorisme sebagai aliran psikologi formal diawali oleh J.B. Watson pada tahun 1913 yang menganggap psikologi sebagai bagian dari ilmu kealaman yang eksperimental dan obyektif, oleh sebab itu psikologi harus menggunakan metode empiris, seperti: observasi, conditioning, testing, dan verbal reports (Asfar et al., 2019).
2. Teori Kognitivisme
Teori belajar kognitif ini teori yang muncul setelah teori belajar behavioristik. Teori bbelajar kognitif digunakan untuk merespon teori belajar behvioristik. Karena pada teori belajar kognitif hanya memperhatikan kondisi psikologis dari peserta didik saja. Oleh para tokoh penemu, teori behavioristik dianggap bahwa pada teori tersebut tidak bisa mengamati kondisi mental para diri peserta didik. Namun faktanya, ketika berlangsungnya proses pembelajaran haruslah mengamati kondisi mental para pesertadidik. Teori belajar kognitif ini memiliki kebalikan dengan teori behavioristik, yang mana pada teori belajar behavioristik rangsangan (stimulus) dan respon lebih diutamakan, tetapi pada teori belajar kognitif tidak hanya rangsangan (stimulus) dan respon saja yang diutamakan. Namun adanya mental dan sikap juga diutamakan yaitu misalnya cara peserta didik dalam memahamisuatu hal, cara siswa dalam menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dan cara siswa dalam berpikir (Nurhadi, 2020).
B. Jenis Psikologi dalam Kurikulum
1. Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan adalah cabang ilmu psikologi yang memfokuskan pada studi tentang perubahan perilaku, pemikiran, emosi, dan interaksi individu sepanjang masa hidup mereka. Ini mencakup periode dari saat individu lahir hingga usia dewasa lanjut. Psikologi perkembangan mencoba memahami bagaimana manusia tumbuh dan berubah dalam berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk fisik, kognitif, emosional, sosial, dan moral.
Bidang ini menyelidiki bagaimana individu mengembangkan keterampilan, nilai-nilai, sikap, dan identitas mereka melalui pengalaman-pengalaman yang mereka alami sepanjang hidup. Psikologi perkembangan tidak hanya berfokus pada tahap-tahap perkembangan yang khas, tetapi juga mengakui bahwa perkembangan manusia bersifat unik dan tergantung pada faktor-faktor individu, lingkungan, dan budaya (Rahmania, 2023).
2. Psikologi Kognitif
Aliran ini lahir pada era 70-an ketika psikologi sosial berkem- bang ke arah paradigma baru. Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk pasif yang digerakkan oleh lingkungannya tetapi makhluk yang paham dan berpikir tentang lingkungannya (homo sapiens). Ali- ran ini memunculkan teori rasionalitas dan mengembalikan unsur jiwa ke dalam kesatuan dalam diri manusia. Asumsi yang digunakan ialah manusia bersifat aktif yang menafsirkan stimuli secara tidak otomatis bahkan mendistorsi lingkungan(Ramadanti Magfirah, Patda Sary Cici, 2005).
3. Psikologi Sosial
Psikologi sosial adalah suatu disiplin ilmu yang mencoba memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan perilaku individu dipengaruhi oleh keberadaan orang lain, baik nyata, imajinasi, maupun karena tuntutan peran sosial. Psikologi sosial sebagai salah satu cabang psikologi yang paling penting memiliki beberapa tujuan keilmuan. Beberapa tujuan keilmuan dari psikologi sosial itu adalah untuk memahami, menjelaskan, meramalkan, memodifikasi, dan memecahkan masalah terkait dengan cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku individu yang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain(Saleh, 2020)
4. Psikologi Pendidikan
Berdasarkan pada pendapat Barlow tersebut, psikologi pendidikan merupakan pengetahuan yang ber- dasarkan pada riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber untuk membantu proses belajar mengajar secara efektif.psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.Berdasarkan definisi psikologi pendidikan tersebut, dapat disimpulkan beberapa hal tentang psikologi pendidikan sebagai berikut.
a. Psikologi pendidikan adalah pengetahuan kependidikan yang didasarkan atas hasil temuan riset psikologis.
b. Hasil temuan riset psikologis tersebut kemudian dirumuskan sedemikian rupa hingga menjadi konsep, teori, metode, dan strategi yang utuh.
c. Konsep, teori, metode, dan strategi tersebut kemudian disistematisasikan sedemikian rupa hingga menjadi repertoire of resources, yakni rangkaian sumber yang berisi pendekatan yang dapat dipilih dan digunakan untuk praktik kependidikan khususnya dalam proses belajar mengajar (Nurhidayah et al., 2017).
C. Faktor Psikologi Dalam Kurikulum
1. Motivasi
Motivasi adalah kekuatan yang mendorong siswa untuk belajar dan mencapai tujuan mereka. Dalam kurikulum, penting untuk menyertakan elemen-elemen yang meningkatkan motivasi internal siswa, seperti memberikan kebebasan memilih topik atau metode belajar yang sesuai dengan minat mereka. Menyambungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata atau aspirasi karier siswa juga bisa meningkatkan motivasi. Selain itu, tugas yang disesuaikan dengan kemampuan siswa (tidak terlalu mudah atau sulit) dapat membuat mereka lebih semangat belajar.
2. Gaya Belajar
Setiap siswa memiliki preferensi dalam cara mereka belajar, dan kurikulum harus mempertimbangkan perbedaan ini agar pembelajaran lebih efektif. Terdapat tiga gaya belajar utama:
a. Visual: Siswa yang cenderung memahami materi lebih baik melalui gambar, diagram.
b. Kinestetik: Siswa yang memahami materi dengan melakukan aktivitas fisik atau eksperimen langsung. Kurikulum yang baik akan memfasilitasi ketiga gaya belajar ini melalui variasi metode pengajaran.
3. Kebutuhan Psikologis
Menurut Teori Motivasi Diri (Self-Determination Theory), ada tiga kebutuhan dasar yang mempengaruhi motivasi dan kesejahteraan siswa:
a. Otonomi: Siswa merasa memiliki kendali atas proses belajar mereka.
b. Kompetensi: Siswa merasa mampu mengatasi tantangan dan mencapai hasil. Hubungan Sosial: Siswa merasa terhubung dengan orang lain, baik guru maupun teman. Kurikulum yang baik memberikan ruang untuk memenuhi kebutuhan ini, seperti dengan melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan terkait belajar dan menyediakan kesempatan untuk kerja sama.
4. Kesehatan Mental
Kesehatan mental siswa sangat memengaruhi kemampuan belajar mereka. Kurikulum perlu memperhatikan faktor-faktor yang bisa memengaruhi kesehatan mental siswa, seperti beban tugas, tekanan akademik, atau kurangnya dukungan sosial. Pelajaran tentang manajemen stres dan pengelolaan emosi dapat membantu siswa menghadapi tantangan psikologis dan mengurangi kelelahan akademik. Lingkungan belajar yang mendukung dan aman sangat penting untuk menjaga kesejahteraan mental siswa.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dengan merangkum informasi psikologi dalam kurikulum, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia. Ini mencakup bagaimana orang berpikir, berpikir dan bertindak dalam situasi yang berbeda. Kurikulum psikologi juga berfokus pada perkembangan kognitif, terutama pada anak-anak dan remaja, membantu mereka meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Selain itu, tujuan utama mempelajari psikologi adalah kesehatan mental dan emosional, termasuk pentingnya menjaga keseimbangan emosi dan menyelesaikan stres serta permasalahan sehari-hari. Disiplin ini juga mencakup psikologi sosial, yang mempelajari bagaimana interaksi sosial mempengaruhi perilaku dan pemikiran masyarakat. Secara keseluruhan, psikologi memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika perilaku manusia dan pentingnya menjaga kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari.
B. SARAN
Pada saat pembuatan makalah Penulis menyadari bahwa banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Dengan sebuah pedoman yang bisa dipertanggungjawabkan dari banyaknya sumber Penulis akan memperbaiki makalah tersebut. Oleh sebab itu penulis harapkan kritik serta sarannya mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, M. F., & Firdaus, A. H. (2023). Landasan Psikologi Kurikulum.
Asfar, A. M. I. T., Asfar, A. M. I. A., & Halamury, M. F. (2019). Teori Behaviorisme (Theory of Behaviorism). Researchgate, September, 1–32. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.34507.44324
Found, S., Detected, L. P., Document, Y., Improvement, O., Psikologis, L., Kurikulum, P., Kholik, A. N., Hamami, T., Sunan, U. I. N., Yogyakarta, K., This, A., Curriculum, C., & Artikel, S. A. (2020). Landasan Psikologi Pengembangan Kurikulum Abad 21.
Nurhadi. (2020). Teori Kognitivisme Serta Aplikasinya. Jurnal Edukasi Dan Sains, 2(1), 77–95.
Nurhidayah, Hardika, Hotifah, Y., Susilawti, S. yuni, & Gunawan, I. (2017). Psikologi Pendidikan. Universitas Negeri Malang.
Rahmania, T. (2023). psikologi perkembangan. sada kurnia pustaka.
Ramadanti Magfirah, Patda Sary Cici, S. (2005). Psikologi Kognitif. In Srikandi Ghalia (Issue July).
Saleh, A. A. (2020). psikologi sosial. IAIN Parepare Nusantara Press.
Yuliawati, L. (2021). Pentingnya Landasan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Inovasi Kurikulum, 5(1), 99–112. https://doi.org/10.17509/jik.v5i1.35627
Tidak ada komentar:
Posting Komentar