IMPLEMENTASI KURIKULUM DALAM PEMBELAJARAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Implementasi merupakan bagian dari keseluruhan manajemen kurikulum yang mencakup pengembangan kurikulum (curriculum development), implementasi (implementation), umpan balik (feedback), evaluasi (evaluation), modifikasi (modification), dan konstruksi kurikulum (curriculum construction). Menggambarkan, bahwa manajemen kurikulum merupakan upaya dari keseluruhan proses delivery tujuan dan isi kurikulum ke dalam praktik pembelajaran di sekolah. Setiap kurikulum termasuk kurikulum baru memiliki gagasan dan ide yang tercermin dalam tujuan, program, dan pendekatan dalam proses pembelajaran maupun dalam sistem evaluasinya.
B. Rumusan Masalah
1. Implementasi Kurikulum?
2. Tahapan Implementasi Kurikulum?
3. Faktor Implementasi Kurikulum?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami implementasi kurikulum.
2. Untuk mengetahui dan memahami tahapan implementasi kurikulum.
3. Untuk mengetahui dan memahami faktor implementasi kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
Implementasi adalah pelaksanaan di mana Browne dan Wildavsky dalam Usman mengemukakan makna implementasi sebagai perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan. Senada dengan pernyataan di atas, Setiawan menyatakan bahwa implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif.(Salim Salabi, 2022)
Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap benar. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa implementasi bermuara pada aktivitas, aksi/tindakan, mekanisme atau sistem. Kata mekanisme mengandung arti, bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu, implementasi tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh objek berikutnya yang dalam hal ini adalah kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta evaluasi yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Implementasi kurikulum memerlukan suatu proses manajemen yang kuat dan baik. Implementasi kurikulum dapat dilihat sebagai suatu proses penerapan gagasan, ide, tujuan, dan keseluruhan program yang termuat di dalam suatu kurikulum. Implementasi dapat dilihat dalam dua perspektif, yaitu implementasi sebagai instrumen dan implementasi sebagai suatu proses. Sekalipun keduanya dapat dilihat dalam perspektif yang berbeda, namun keduanya tidak dapat dipisahkan. Sebagai instrumen, implementasi mempunyai peranan penting untuk mewujudkan gagasan-gagagasan, ide dan ataupun tujuan kurikulum itu sendiri. Implementasi itu sendiri berlangsung dalam suatu proses, terutama proses pembelajaran. Oleh sebab itu, implementasi kurikulum sebagai suatu proses perlu dipahami sebagai upaya pengimplementasian tujuan kurikulum ke dalam proses pembelajaran.(Katuuk, 2014)
Implementasi kurikulum adalah pelaksanaan kurikulum yang mencakup tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Implementasi kurikulum merupakan terjemahan kurikulum dokumen menjadi kurikulum sebagai aktivitas atau kenyataan. Implementasi kurikulum diwujudkan dalam bentuk pengalaman belajar dengan prinsip-prinsip yang menjadikannya lebih mudah dan lebih efektif untuk dikomunikasikan ke berbagai pihak seperti pimpinan sekolah, pendidik, pengawas sekolah, dan staf pendukung lainnya.
Implementasi kurikulum merupakan suatu tindakan yang didasarkan dari perencanaan yang telah dibuat. Rencana yang dilaksanakan menjadi penekanan pada makna implementasi. Implementasi kurikulum dapat diartikan sebagai pembelajaran, dimana kurikulum yang telah dirancang dapat dilaksanakan pada satuan terkecil yaitu di ruang kelas. Hamalik menyatakan implementasi adalah terjadinya efek setelah adanya penerapan terhadap sesuatu, sedangkan implementasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diuji cobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan, sambil senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional, serta fisiknya.(Safarudin & Rusman, 2022)(Sebrina & Sukirman, 2019)
Saylor dan Alexander yang mengutarakan bahwa implementasi kurikulum mengandung makna proses direalisasikannya desain kurikulum menjadi suatu pembelajaran yang di dalamnya terjadi interaksi antara peserta didik dengan guru dalam konteks pembelajaran. Miller dan Seller mengemukakan bahwasanya implementasi kurikulum dimaknai sebagai suatu proses realisasi terhadap konsep, gagasan, desain, atau rangkaian kurikulum ke dalam aktivitas pembelajaran baru, yang mana hasil akhirnya adalah terjadinya perubahan yang diharapkan terjadi pada sekelompok individu.(Nomor et al., 2023)
Implementasi kurikulum berarti penerapan kurikulum dalam proses pembelajaran yang dapat memberi pengaruh terhadap perubahan perilaku peserta didik. Mengimplementasikan kurikulum secara efektif, diperlukan kesiapan guru, baik kesiapan administrasi pembelajaran, maupun kesiapan mental. Sebab, dalam implementasi kurikulum sangat mungkin terjadi munculnya perbedaan antara perencanaan dengan realitasifatnya lokal dan kontekstual.(Sudirman, 2019)
Implementasi kurikulum merupakan suatu proses rencana dari kurikulum yang menerapkan model pembelajaran yang melibatkan diantaranya adalah hubungan interaksi siswa sesame guru. Dalam suatu konteks lingkungan disekolah baik didalam kelas maupun diluar kelas, dengan cara menguji coba melaksanakan dengan adanya penyesuaian diri terhadap lingkungan dan karakteristik siswanya baik perkembangan. Implementasi kurikulum juga bisa disebut dengan rencana suatu program kurikulum dalam bentuk model pembelajaran.(Zaini, n.d.)
Implementasi kurikulum diwujudkan dalam bentuk pengalaman belajar dengan prinsip-prinsip yang menjadikannya lebih mudah dan lebih efektif untuk dikomunikasikan ke berbagai pihak seperti pimpinan sekolah, pendidik, pengawas sekolah, dan staf pendukung lainnya. Implementasi merupakan bagian dari keseluruhan manajemen kurikulum yang mencakup pengembangan kurikulum (curriculum development), implementasi (implementation), umpan balik (feedback), evaluasi (evaluation), modifikasi (modification), dan konstruksi kurikulum (curriculum construction).
B. Tahapan Implementasi Kurikulum
Menurut Mulyasa, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi kurikulum adalah perencanaan kurikulum, pelaksanaan kurikulum, dan penilaian terhadap pelaksanaan kurikulum. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Oemar Hamalik, secara garis besar tahapan implementasi kurikulum meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1. Tahap perencanaan
Menetapkan tujuan tertulis dalam visi dan misi satuan pendidikan. Usaha ini guna menetapkan setrategi, kebijakan, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Tahap pelaksanaan
Pelaksanaan sebagai usaha menjadikan perencanaan menjadi kenyataan dengan berbagai teknik atau alat yang digunakan, waktu pencapaian, pihak yang terlibat dalam pelaksanaan dengan berbagai pengarahan dan motivasi agar setiap yang terlibat dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai peran, tugas, dan tanggung jawab masing-masing.
3. Tahap evaluasi
Evaluasi adalah proses penilaian sesuatu berdasarkan kriteria tertentu yang akan menghasilkan kumpulan data atau informasi yang dibutuhkan. Dengan hasil dan informasi yang diperoleh, maka akan memudahkan dalam menentukan nilai yang selanjutnya dapat dijadikan acuan penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun pengambilan keputusan dalam kurikulum.(Salim Salabi, 2022)
Implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu perencanaan program, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi.
1. Perencanaan program
Mencakup program tahunan, semester, bulanan, mingguan dan harian. Selain itu juga ada program bimbingan dan konseling atau program remedial.
2. Pelaksanaan pembelajaran.
Pada hakikatnya, pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku peserta didik tersebut.
Pada tahapan ini menjadi kegiatan inti dimana pelaksaan pembelajaran dapat berlangsung baik dengan segala persiapan yang dilakukan guru sebelum melakukan pembelajaran seperti pembuatan perangkat ajar yaitu silabus, RPP, media dan evaluasi. Selain itu dalam tahap ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar kelompok, berdiskusi, dan mengembangkan dirinya. Guru memiliki fungsi menjadi fasilitator yaitu menyiapkan segala hal yang dibutuhkan siswa seperti materi ajar, media dan sumber belajar lainnya. Guru mendampingi setiap perkembangan dalam proses transfer materi agar tercahapai keberhasilan dalam hasil belajar siswa.
3. Evaluasi
Proses yang dilaksanakan sepanjang proses pelaksanaan kurikulum catur wulan/semester serta penilaian akhir formatif dan sumatif mencakup penilaian keseluruha secara utuh untuk keperluan avaluasi pelaksanaan kurikulum.
Proses pelaksanaan evaluasi menjadi salah satu factor penting karena menjadi alat ukur dalam proses pembelajaran, jika hasil evaluasi baik maka dapat dikatakan proses pembelajaran berhasil dan jika hasil evaluasi dikatakan di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) berarti pembelajaran harus dilakukan perbaikan. Adapun bentuk evalausi dalam kurikulum dpat dilakukan sepanjang proses pembelajaran yaitu PH atau Penilaian Harian, Penilaian Tengah Semester (PTS) atau penilaian Akhir semester, Penilaian Sumatif ataupun penilaian formatif. Seluruh rangkaian proses evaluasi tersebut sebagai Langkah selanjutnya dalam pengimplementasian kurikulum di lapangan. Kemudian di setiap akhir semester dilakukan laporan hasil kemajuan belajar siswa melalui buku rapot yang dibagikan dan diambil oleh orang tua atau wali peserta didik agar dapat menyampaikan hasil belajar anaknya. Moment tersebut dapat diajadikan ruang bagi guru untuk mendapatkan dan menggali informasi bagaimana perilaku peserta didik di rumah.
Menurut pandangan Hamalik, tahapan implementasi kurikulum meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahapan tersebut penting untuk diperhatikan dalam implementasi sebuah kurikulum.(Profil & Pancasila, 2023)
C. Faktor Implementasi Kurikulum
Keberhasilan implementasi kurikulum akan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah masalah manajemen implementasi kurikulum. Penelitian menemukan bahwa inisiatif dan kebijakan nasional dan terutama school policy management berpengaruh terhadap implementasi kurikulum di sekolah. Sementara dari hasil penelitian ditemukan, bahwa kendala-kendala implementasi kurikulum baru, terutama terkait dengan kekurangjelasan substansi isi kurikulum yang berimplikasi pada implementasi, kekurangsiapan guru, kondisi kemampuan santri, dan budaya sekolah.
Adapun faktor-faktor lain yang mempengaruhi implementasi kurikulum adalah sebagai berikut:
1. Faktor Perencanaan
Implementasi kurikulum harus direncanakan dan dipersiapkan agar berhasil dengan baik. Perencanaan implementasi penting sebagai kerangka acuan sehingga terjadi efisiensi dalam pendayagunaan semua sumber daya, baik sarana prasarana maupun sumber daya manusia. Implementasi kurikulum juga membutuhkan perencanaan yang baik dan jelas mengenai bagaimana organisasi dan mekanisme implementasi, tahapan-tahapan implementasi, kegiatan apa yang harus dilakukan dalam setiap tahapan itu, kapan waktu pelaksanaannya, siapa yang harus bertanggung jawab setiap tahapan dan setiap kegiatan, kebutuhan logistik apa yang diperlukan, serta berapa sumber daya dan biaya yang diperlukan.
2. Faktor Substansi (isi) Kurikulum
Faktor isi kurikulum merupakan faktor yang berpengaruh terhadap implementasi kurikulum itu sendiri. Faktor-faktor tersebut dapat mencakup karaketeristik kurikulum seperti berikut:
a. Apakah memiliki kejelasan, baik tujuan, pendekatan, dan ataupun tata kelolanya. Kejelasan ini menjadi sangat penting agar tidak terjadi multi tafsir mengenai tujuan, struktur, isi, pendekatan, dan sistem penilaian kurikulum itu sendiri.
b. Realistik dan relevan sehingga memperkuat kontekstualitas implementasinya. Kurikulum yang realistik dan relevan memberi ruang bagi guru-guru untuk mengembangkan bahan ajar yang relevan dan kontekstual dengan kehidupan anak dan lingkungannya.
c. Kerangka konseptual yang mendasari pengembangan kerangka isi konseptual bahan ajar.
Altrichter menyebutkan conceptual matters sebagai salah satu limiting factors dalam implementasi kurikulum. Sementara Newstead, mengemukakan beberapa faktor kurikulum seperti:
a. errors in the construction of the document
b. content errors
c. in appropriate content.
Faktor pertama adalah kelemahan dalam konstruksi kurikulum, baik perencanaan maupun pengembangannya. Faktor kedua adalah kesalahan dalam hal isi kurikulum. Kesalahan pada isi kurikulum dapat menyebabkan anak menerima materi yang tidak standar dan akan berimplikasi pada kemampuan anak untuk kompetitif. Faktor ketiga adalah kesesuaian isi kurikulum, terutama dilihat dari aspek psikologis, yaitu kesesuaian dengan tingkat perkembangan inteligensi, sosial, dan moral anak.
3. Faktor Pendidik
Peran guru menjadikan kurikulum sebagai sesuatu yang aktual (actual curriculum) dalam kegiatan pembelajaran. Altirchter menyebutkan tiga faktor penting dari guru sebagai faktor-faktor yang membatasi implementasi kurikulum, yaitu:
a. competencies and attitude
b. decision making participation
c. quality of collegial relationship
Ketiga faktor yang dikemukakan Altirchter tersebut menunjuk pada kompetensi, baik kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian maupun kompetensi sosial. Sementara Bennie dan Newstead menyebutkan bahwa teachers’ content knowledge merupakan salah satu faktor rintangan dalam implementasi kurikulum baru. Melalui penelitian yang mereka lakukan, ditemukan bahwa teacher content knowledge does influence classroom instruction and the richness of learners’ mathematical experiences.
Hasil penelitian ini memperkuat proposisi mengenai peran pengetahuan konseptual guru yang melandasi bahan ajar. Guru sudah harus memiliki pengetahuan konseptual yang kuat, baik konten bidang studi maupun pengetahuan konseptual pedagogik dan pembelajaran yang akan memperkuat kemampuan guru dalam mengembangkan silabus, bahan ajar, dan pendekatan-pendekatan metodologis pembelajaran. Selanjutnya juga penting dilakukan pengembangan kemampuan guru yang mencakup pengembangan kompetensi kepribadian dan sosial.
4. Faktor Iklim dan Budaya
Sekolah Setiap kurikulum baru memuat banyak hal yang baru. Inovasi-inovasi baru dapat mencakup tema-tema yang diusung, tata kelola, pendekatan dalam proses pembelajaran, muatan dan isi kurikulum, dan atau sistem penilaian. Inovasi dan hal-hal baru tersebut membutuhkan perubahan dalam pola pikir, sikap, dan juga iklim serta budaya sekolah. Guru yang dalam tugas kesehariannya membutuhkan perubahan mind set atau perubahan cara berpikir dan sikap terhadap pendekatan pembelajaran yang ilmiah (scientific approach) yang mengedepankan aktivitas belajar secara ilmiah seperti mengamati, menanya, mencoba, menganalisis, menyimpulkan, dan atau mengevaluasi. Iklim sekolah harus diciptakan dan dibangun sehingga memberi ruang terbentuknya sikap dan perilaku ilmiah dalam proses pembelajaran.
Budaya Sekolah mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam implementasi kurikulum. Guru mempunyai peran yang penting dalam membangun dan menciptakan budaya sekolah yang kondusif. Peran itu dapat dilakukan melalui perubahan cara berpikir, sikap, dan perilaku yang nampak dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran yang dikembangkan guru.
5. Faktor Sarana dan Prasarana
Terdapat sarana dan prasarana utama yang sangat diperlukan dalam implementasi kurikulum baru, yang terdiri atas:
a. Buku pelajaran
b. Laboratorium peralatan dan bahan yang harus tersedia dalam rasio yang mencukupi dan yang memenuhi standar mutu minimal laboratorium
c. Ketersediaan berbagai media pembelajaran baik jenis, bentuk maupun model, di mana media-media pembelajaran tersebut dapat terdiri atas dari media cetak, elektronik, maupun media berbasis lingkungan sekolah
d. Aksesibilitas penggunaan sarana dan prasarana oleh santri dan guru.
6. Faktor Peran Kepala Sekolah
Fungsi manajerial kepala sekolah mencakup fungsi perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi, serta fungsi pengembangan. Dimba, melalui hasil penelitiannya mengemukakan lima aspek penting dari peran kepala sekolah dalam implementasi kurikulum:
a. Kemampuan kepala sekolah dalam mengorganisir kegiatan pengembangan, seperti inservice training programmes, workshop, staff development meetings and by inviting experts.
b. Mengembangkan strategi implementasi yang beragam untuk membimbing guru.
c. Melakukan kolaborasi dengan pengguna (stakeholders) dalam menata kelola perubahan kurikulum.
d. Melibatkan stakeholders dalam manajemen implementasi.
e. Melibatkan orang tua dalam implementasi.
Implementasi kurikulum dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
1. Karakteristik kurikulum, yang mencakup ruang lingkup bahan ajar, tujuan, sifat dan sebagainya.
2. Strategi implementasi, yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi kurikulum, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, lokakarya penyediaan buku kurikulum dan berbagai kegiatan lain yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan.
3. Karakteristik pngguna kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan serta nilai sikap guru terhadap kurikulum dalam pembelajaran.
Adapun faktor-faktor pendukung implementasi kurikulum sebagai berikut:
1. Faktor Guru
Guru merupakan salah satu unsur di bidang pendidikan yang berperan aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Karena itu guru tidak semata-mata sebagai “transfer of values” pengajar, melainkan juga sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun peserta didik dalam belajar. Faktor guru cukup berperan dalam implementasi kurikulum dan berakibat langsung pada perubahan sekolah sebagai sistem sosial.
2. Faktor Peserta didik
Peserta didik merupakan raw input yang menunjukkan pada faktor-faktor yang terdapat dalam individu serta memungkinkan seseorang dapat belajar. Adapun faktor-faktor tersebut meliputi: bakat, pengetahuan, sikap, usia, jenis kelamin dan sosial ekonomi .
3. Faktor Lingkungan
Keberhasilan proses dan hasil belajar ditentukan pula oleh sarana dan prasarana yang memadai serta didukung oleh kondisi lingkungan yang kondusif. Lingkungan dikatakan sebagai faktor penentu kedua keberhasilan proses pendidikan agama Islam, sesudah faktor pembawaan. Faktor lingkungan ini meliputi lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga (orang tua dan masyarakat).(Azis, 2004)
Implementasi kurikulum dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu;
1. Karakteristik kurikulum
Faktor ini mencakup ruang lingkup bahan ajar, tujuan, fungsi, sifat dan sebagainya. Ciri khas kurikulum berbeda-beda oleh karenanya guru sebagai subyek utama dalam pengembangan kurikulum harus segera beradaptasi dengan perubahan kurikulum yang akan diterapkan.
2. Strategi implementasi
Strategi yang dipakai dalam penerapan kurikulum, penerapan kurikulum dapat berjalan lancar dengan beberapa strategi atau trik yaitu kegiatan lokakarya, seminar, diskusi profesi, penataran, penyediaan buku kurikulum dan berbagai kegiatan lain yang dapat mendukung penerapan kurikulum di lapangan.
3. Karakteristik pengguna kurikulum
Pengguna kurikulum yang dimaksud adalah guru dan peserta didik yang meliputi berbagai aspek yaitu aspek pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap guru terhadap kurikulum dalam melaksanakan pembelajaran. Pengguna kurikulum harus memahami bagaimana kurikulum tersebut dipahami, diterapkan dan dilaksanakan.(Siregar, 2022)
BAB III
PENUTUP
Implementasi kurikulum adalah pelaksanaan kurikulum yang mencakup tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Implementasi kurikulum diwujudkan dalam bentuk pengalaman belajar dengan prinsip-prinsip yang menjadikannya lebih mudah dan lebih efektif untuk dikomunikasikan ke berbagai pihak seperti pimpinan sekolah, pendidik, pengawas sekolah, dan staf pendukung lainnya.
Tahapan implementasi kurikulum meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahapan tersebut penting untuk diperhatikan dalam implementasi sebuah kurikulum. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi implementasi kurikulum adalah perencanaan, substansi (isi) kurikulum, pendidik, iklim dan budaya, sarana dan prasarana, peran kepala sekolah, guru, lingkungan, karakteristik kurikulum, strategi implementasi, dan karakteristik penggunaan kurikulum.
Implementasi kurikulum diwujudkan dalam bentuk pengalaman belajar dengan prinsip-prinsip yang menjadikannya lebih mudah dan lebih efektif untuk dikomunikasikan. Saran yang penulis dapat berikan adalah ketika pembaca membaca makalah ini kiranya pembaca dapat memahami mengenai Implementasi Kurikulum Dalam Pembelajaran. Serta penulis berharap kepada para pembaca untuk dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca serta masyarakat lainnya.
Azis, R. (2004). Implementasi pengembangan kurikulum. 44–50.
Katuuk, D. A. (2014). Manajemen Implementasi Kurikulum: Strategi Penguatan implementasi Kurikulum 2013. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 1(1), 13–26. https://doi.org/10.21831/cp.v1i1.1858
Nomor, V., Halaman, M., Zainuri, A., & Zulfi, A. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Jambura Journal of Educational Management. 4, 16–25.
Profil, K., & Pancasila, P. (2023). JURNAL MORAL KEMASYARAKATAN Implementasi Kurikulum Merdeka Berorientasi Pembentukan. 8(2), 179–190.
Safarudin, L. O. M., & Rusman, R. (2022). Model Implementasi Kurikulum Ornstein dan Hunkins: (Modernisme dan Postmodernisme). Inovasi Kurikulum, 18(2), 141–156. https://doi.org/10.17509/jik.v18i2.36396
Salim Salabi, A. (2022). Efektivitas Dalam Implementasi Kurikulum Sekolah. Education Achievement: Journal of Science and Research, 1(1), 1–13. https://doi.org/10.51178/jsr.v1i1.177
Sebrina, A. A., & Sukirman, D. (2019). Implementasi kurikulum pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 11(2), 98–116. https://doi.org/10.21831/jpipfip.v11i2.19748
Siregar, L. F. (2022). Jurnal Pendidikan dan Konseling. Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 4, 1349–1358.
Sudirman, H. (2019). STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM : SUATU KAJIAN. 2, 936–951.
Zaini, M. (n.d.). Implementasi kurikulum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar